Art Therapy Center Widyatama didirikan sebagai dedikasi ilmu Seni dan Desain bagi penderita disabilitas Indonesia. Selama lebih dari 10 tahun lamanya penelitian ditemukan Metode Sensasi yakni metode stimulasi sensori berbasis kreatif yang merupakan aspek-aspek dalam seni, yakni audio, visual dan kinetis.

Tujuannya sangat jelas memberikan kesempatan kepada para penyandang disabilitas agar dapat hidup mandiri menjadi manusia yang produktif dan mampu menghidupi diri sendiri, melalui sektor ekonomi kreatif. 

Instagram        : atc_widyatama

Facebook        : Art Therapy Center Widyatama

“ if you believe in yourself anything is possible”

Angkasa Nasrulloh Emir

Angkasa saat ini berusia 20 tahun. Ungu menjadi warna favoritnya saat ini, karena hal tersebut mayoritas karya Angkasa berwarna dominan ungu. Dalam Aleza X ATC Widyatama, Angkasa menyumbangkan 2 karya yang berjudul “Minum Teh” dan “Kamar” . Meskipun karyanya “by order” namun Angkasa memberikan ciri khasnya sendiri.

Mulyo Raharjo Pambudi

Daya Imajinasi salah satu siswa treatment khusus ATC Widyatama ini sangat kuat. Umumnya Mulyo, menghasilkan karya karya dengan objek manusia. Tetapi pada karya ini Mulyo dipersiapkan untuk berkarya by order. Dan ternyata Mulyo mampu melakukannya.

Cahaya Sukma Anissa

Aya begitu nama panggilannya, termasuk anak yang pendiam dan pasif tapi mampu berkomunikasi dengan baik. Setelah sekian tahun belajar di ATC, terlihat Aya lebih interest untuk menggambar kaktus. Sekalipun demikian dalam pembelajaran Aya juga tetap diwajibkan untuk menggambar objek objek lainnya yang bersifat illustratif, untuk membangun kemampuannya bercerita dan mengungkapkan ekspresi.

Abiyan Zahran Faisal

Siswa treatment khusus berusia 14 tahun ini memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Kemampuannya menggambar juga sangat luar biasa. Garis yang tegas dan mampu menangkap objek dengan akurat, dan memiliki gaya ungkap personal. Meskipun Biyan bukan anak yang mudah dipengaruhi dalam berkarya, dalam kolaborasi ini Biyan membuktikan mampu menciptakan karya melalui referensi.

Nazario Prianggara

Karena mengalami cedera otak, meniru gambar merupakan cara meminimalisir ketegangan serta menjauhkannya untuk berpikir terlalu keras. Sekalipun demikian gambar yang dihasilkan tidak sama persis, karena Dena tetap menggambar sesuai dengan persepsinya sehingga memiliki kekhasan yang tampak pada setiap gambarnya. Tujuan pembelajaran, melatih komunikasi, kesabaran, toleransi dan sikap kompromis.

Ariq Rabbani

Ariq memiliki pola yang sama dengan Dena dalam proses berkarya meskipun begitu hasil karya yang mereka buat tampak berbeda. Pada karya-karya Ariq tampak lebih ekspresif. Terutama hal ini tampak pada garis. Baik garis kontur maupun goresan-goresan warna. Dalam mewarnai Dena menggunakan blok sementara Ariq menggunakan keterampilan penguasaan mouse, sehingga menghasilkan warna yang tidak rata.

#ATCWIDYATAMAFORALEZA